Bersatu Tanpa Khilafah

Sungguh kita sangat berharap umat Islam bersatu kembali, kalau perlu secepat-cepatnya dan dengan cara semudah-mudahnya. Kita sudah capek melihat perpecahan, saling hina, saling merendahkan, bahkan saling menghancurkan antar sesama umat Islam.

Kita juga berharap agar syariah diterapkan secara sempurna secepat-cepatnya sehingga keadilan benar-benar terwujud. Kita sudah sangat muak melihat ketidak-adilan, kebohongan, penindasan, dan kesombongan yang dipertontonkan setiap saat.

Tidak perlu Khilafah-Khilafahan. Terlalu lama dan bertele-tele. Yang penting persatuan terwujud dan syariah diterapkan. Bicara Khilafah malah membuat umat Islam dan ormas-ormas Islam saling bermusuhan. Setelah kita bersatu dan syariah ditegakkan, kita baru bicarakan masalah Khilafah.

Terus terang, saya dulu berfikir seperti itu. Terkadang hal itu juga masih terlintas di benak saya. Saya juga sangat sering baca tulisan di Facebook atau di manapun, bahkan ucapan dan tulisan para ustadz terkenal, intinya juga seperti itu.

Saya tidak menyalahkan pendapat itu, apalagi merendahkan yang punya pendapat seperti itu, karena saya juga terkadang berpendapat seperti itu.

Namun, saat terlintas pendapat itu, biasanya saat saya sedang emosional. Misalnya saat melihat Islam dilecehkan, umat dibantai, atau menyaksikan perdebatan antar anggota ormas Islam yang saling menjatuhkan.

Namun, saat emosi mulai mereda dan mulai berfikir dengan tenang, secara obyektif harus saya katakan, sesuatu kebaikan harus diwujudkan dengan cara yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Bukan sekedar mengikuti cara yang "gampang" atau "pokoknya".

Memang, yang penting adalah persatuan umat dan tegaknya syariah, bukan adanya Khilafah. Tetapi, realitasnya tanpa Khilafah, tidak akan pernah ada persatuan yang hakiki dan tidak akan pernah penegakan syariah secara sempurna.

Saya sangat berharap, tak perlu Khilafah, umat Islam bersatu: Turki, Saudi, Indonesia, Malaysia dll bersatu membela umat Islam yang tertindas di Suriah, Rohingya, Palestina dll. Tapi, realita demi realita semakin menunjukkan bahwa memang tak mungkin mereka bersatu secara real, jika masih dengan konsep negara bangsa (nation state), yang menganggap urusan bangsanya lebih urgen dibanding urusan bangsa-bangsa lain.

Saya tidak dalam posisi mengkiritik para pemimpin Turki, Saudi, Indonesia, Malaysia, atau yang lain. Bahkan, seandainya saya berada dalam posisi mereka, mungkin saya akan melakukan hal yang sama dengan mereka. Bahkan, bisa jadi, saya jauh lebih buruk, dari apa yang mereka lakukan. Sebab, dalam posisi memimpin negara bangsa (nation state) itu memang seperti buah simalakama.

Misalnya, jika Erdogan membantu mujahid secara terang-terangan di Suriah, bisa jadi akan diserang oleh Rusia dan aliansinya. Sementara rakyat Turki belum tentu siap dan mendukungnya, apalagi lawan-lawan politiknya; dan dunia Islam yang lain juga belum tentu membantu. Lihat, saat suatu negeri Islam dihajar beramai-ramai, tak ada yang membantu. Itu bukti yg tak mungkin dielakkan. Sementara di sisi lain, mendiamkan pembantaian umat Islam, membuat hati teriris-iris. Mungkin yang paling masuk akal untuk dilakukan adalah membuat ajakan-ajakan kepada dunia Islam unk bersatu, mengadakan pertemuan-pertemuan, dan membuat pernyataan kutukan. Itu sudah maksimal. Paling tidak, sedikit mengurangi rasa bersalah karena membiarkan pembantaian terhadap umat Islam.

Jadi, masalahnya bukan tentang pemimpin Turki, Saudi, atau yang lain. Masalahnya adalah umat Islam terkotak-kotak dalam nation state. Ini juga bukan masalah Ikhwanul Muslimin, HT, Salafy, NU atau yang lain. Ini adalah masalah real yang benar-benar dihadapi umat Islam, kita semua.

Umat Islam benar-benar butuh persatuan yang nyata. Dan ternyata persatuan yang nyata itu adalah Khilafah Islamiyah. Inilah yang ternyata diajarkan oleh Rasulullah dan para shahabat setelahnya. Sungguh sangat tidak asing di telinga kita sebutan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dll.... Khalifah bukan sekedar nama depan dari Abu Bakar atau Umar, tetapi adalah sebutan atas jabatan yang beliau pegang.

Inilah kesimpulan sementara saya saat masih sekolah di Madrasah NU. Dan kesimpulan ini menjadi lebih meyakinkan, setelah mengkaji kitab-kitan Syeikh Taqiyuddin.

Ini penting untuk dipahami. Dan untuk menghayati ini, kita perlu sedikit menurunkan tensi emosi dan sensitivitas kita.

Setelah ini dipahami dg baik, kita akan berpikir bagaimana mewujudkannya.

Mewujudkan Khilafah tentu jauh lebih rumit dari memahami pentingnya Khilafah. Apalagi di tengah kompleksitas masalah dan perpecahan umat yang sungguh luar biasa.

Namun, pembahasan tentang bagaimana mewujudkan Khilafah sama sekali tidak penting dan hanya menghabiskan waktu, jika kita beranggapan bahwa Khilafah tidak terlalu penting. Atau seperti kata orang: "penting, tapi tidak terlalu penting".

Jika Khilafah itu memang sangat penting dan persatuan tidak akan terwujud tanpa Khilafah, nanti insya Allah akan kita diskusikan metode menegakkannya.

Namun, jika memang menurut Anda, Khilafah itu tidak terlalu penting, sebaiknya Anda tidak perlu menghabiskan waktu untuk berdebat tentangnya. Waktu Anda akan lebih bermanfaat digunakan mengerjakan hal lain yang Anda anggap sangat penting atau lebih penting.

Wallahu a'lam.

sebuah tulisan dari Ustadz Choirul Anam