Kutipan Buku Cinta Indonesia, Rindu Khilafah

Dikatakan oleh para pakar bahwa Pancasila itu rumusan terbaik bagi bangsa ini. Akal awam saya kebingungan mencernanya karena para pakar sendiri sekolahnya ke barat dan sering mengatakan bahwa kita adalah negara yang berkembang yang harus banyak belajar ke negara-negara maju seperti eropa dan amerika.

Padahal, selama saya membaca berita belum pernah mendengar bahwa eropa dan amerika itu dasarnya Pancasila. Lalu mengapa kita yang belajar kesana, bukan mereka yang belajar ke sini? Bukankah kita punya rumusan terbaik? Bukankah kita mestinya melihat orang berduyun-duyun ke Indonesia untuk belajar Pancasila, bukan sebaliknya kita berduyun-duyun belajar tentang tata cara kehidupan ke Amerika dan Eropa?

Dikatakan para pakar bahwa pancasila itu sakti, sebagai orang awam saya bertanya, apanya yang sakti? Lambangnya, rumusannya, namanya, atau apanya? Saktinya seperti apa? Apa seperti keris, jimat atau seperti apa? Pancasila itu benda atau rumusan konsep? Jika ia benda, seperti apa? Jika ia konsep, apa logis suatu konsep dikatakan sakti?

Dikatakan juga oleh para pakar, bahwa orang yang bicara syariah, itu tidak cinta bangsa ini. Terus terang saya tidak habis pikir, mengapa mereka bisa bilang begitu? Bagaimana penjelasannya? Bukankah islam itu rahmatan lil alamin yang membawa kebaikan pada siapapun, lalu mengapa orang yang menginginkannya tidak cinta bangsa dan tanah air? Saya jadi bertanya apa itu bangsa? Apa itu tanah air? Apa itu cinta? Apakah cinta tanah air itu harus rela dan ridho diatur oleh hukum buatan belanda? Apakah cinta tanah air itu sama artinya dengan cinta demokrasi?

Kita semua mempunyai akal dan logika, meski bukan pakar. Meski tidak pernah sekolah tinggi. Meski tidak tahu definisi akal dan logika. Bahkan, meski tidak pernah mendengar istilah logika itu sendiri. Namun, tanpa sadar, kita terkadang menerima sesuai tanpa harus masuk logika kita. Terkadang kita dipaksa mengikuti teks dan para pakar, meski tidak sesuai logika.

*dikutip dari buku Cinta Indonesia, Rindu Khilafah, karangan Muhammad Choirul Anam (penulis best seller "Kota Roma Menanti Anda")