Mafahim Seorang Muslim (2)

Setelah sebelumnya kita berbicara tentang ‘mafahim’ seseorang yang akan menentukan perilakunya terhadap seseorang/sesuatu, kali ini saya mencoba berbagi bagaimana seseorang berubah tingkah lakunya karena mafahimnya berubah juga.

Seseorang yang kita kenal di masa lalu, saat bertemu kembali lagi akan ada 2 kemungkinan:
1. sudah berubah sifat/tingkah lakunya
2. belum berubah sifat/tingkah lakunya.

Maksudnya masa lalu, bukan berarti jauh di jaman dulu, bisa saja 1 hari sebelumnya.

Apa yang membuat orang tersebut berubah? ya, jawabannya adalah: MAFAHIM

Jadi, tingkah laku berkaitan erat dengan mafahim yang dimiliki. Karena itu, jika ingin seorang manusia berubah tingkah lakunya, dari yang rendah menjadi luhur, tidak ada jalan lain selain harus mengubah mafahim-nya.

Sebagai selingan, ada sebuah cerita:

Suatu hari ada seorang Bapak Tua bersama dengan 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Mereka naik kereta ekonomi. Di dalam kereta, anak-anak itu sangat ribut sehingga banyak mengganggu penumpang yang lain. Berlarian kesana kemari, teriak-teriak tawa mewarnai keceriaan mereka. Penumpang yang lain banyak yang merasa terganggu. Dan Sang Bapak Tua itupun, sepertinya tidak mau tahu dengan anggapan dan pandangan para penumpang yang merasa terganggu oleh anak-anak kecilnya.

Seorang Ibu memberanikan diri untuk menegur Bapak Tua itu agar mau mendiamkan anak-anak kecil itu, “Pak, maaf Pak. Apakah anak itu anak-anak Bapak ?”

Tanpa menjawab, Bapak Tua itu pelan-pelan mengangkat kepala dan melihat ke arah Ibu yang menegurnya, “Ada apa Bu ?” tanya Bapak Tua.

“Itu Pak, Anak Bapak. Mereka berisik dan mengganggu penumpang yang lain, tolong disuruh diam Pak. Sebagai orang tua, harusnya Bapak bisa menjaga anak-anaknya dong. Kami merasa terganggu” jawab Ibu tersebut.

“Ooo, maaf bu saya tidak bisa” jawab Bapak Tua.

“Kenapa tidak bisa ? Kan itu anak Bapak” sahut sang Ibu.

“Saya tidak tega” jawab Bapak Tua itu lagi.

“Kenapa tidak tega ?”

“Tiga hari yang lalu, mereka baru saja kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan pesawat. Sejak kecelakaan itu, mereka tidak pernah berhenti menangis. Dan baru kali ini, saya melihat mereka bisa tertawa dengan bahagianya. Saya tidak tega memberhentikan tawa mereka. Jika Ibu tega, saya mempersilahkan Ibu untuk memberhentikan tawa mereka agar mereka tidak mengganggu para penumpang yang lain” jawab Bapak Tua itu mengakhiri percakapan.

Sang Ibu kemudian kembali ke tempat duduknya, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi sambil meneteskan air matanya. Kini, marahnya telah berubah menjadi sayang. Bencinya beberapa waktu lalu berubah menjadi simpati. Ia sangat senang melihat anak yatim-piatu tersebut bisa tertawa lepas.

Cerita di atas menggambarkan bahwa dengan mudahnya mafahim (persepsi) seseorang berubah karena informasi dari orang lain.

Di dalam Al Quran sendiri, sudah diberitahukan oleh Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”

Nah, selanjutnya: bagaimana membuat seorang manusia mempunyai pemikiran yang membuat dirinya BANGKIT?

Hal ini akan bergantung dengan pemikirannya tentang: HIDUP, ALAM SEMESTA, dan MANUSIA itu sendiri. Dan bagaimana Islam, sebagai rahmat bagi alam semesta menjawab itu semua.

Insya Allah saya akan bahas kembali di posting selanjutnya. Syukron untuk yang sudah menyimak 😉

Ardy Hidayat

Read more posts by this author.