Percakapan di Bank Siang Itu

Siang itu saya antri di sebuah bank konvensional, sebut saja Bank Biru, untuk meminta dibuka blokir token internet banking. Maklum tanpa disadari anak saya Dynda memainkan token tsb dan beberapa kali memasukkan password hingga diblokir :-)

Lama juga ternyata antrian di bank ini. Agak menyesal tidak menuruti kata teman saya yang menyarankan untuk datang pagi, karena jika siang akan banyak antrian. Tapi dengan ponsel di tangan, menunggu jadi tidak membosankan 😀

Setelah kurang lebih menunggu 2 jam, akhirnya tibalah giliran saya. Tanpa basa basi saya menceritakan tentang meminta membuka blokir, maklum saya ingin cepat-cepat kelar, lalu melanjutkan pekerjaan saya yang tertunda.

Ternyata setelah persoalan saya kelar, sang Customer Service ingin seperti menawarkan sesuatu kepada saya. Walah, ternyata inilah penyebab lamanya antrian, kemungkinan setiap pelanggan yang sudah beres urusannya, ditawarkan lagi untuk ikut program investasi di bank ini, ya ditawarkan semacam unitlink lah.

Terjadilah percakapan saya dan Customer Service dari Bank Biru tsb, kurang lebih seperti ini:

CS: “Gimana kalo Pak Ardy buka tabungan investasi saja, bisa sekalian asuransi juga loh bla bla bla”
Saya: “Maaf mbak, masalah itu saya belum tertarik”
CS: “Wah kok gitu, Bapak sudah punya anak kan? bagus ini untuk tabungan anak nanti. Kalo dihitung-hitung, bunganya bisa sampai 36% loh setahun, beda sekali dengan tabungan Pak Ardy sekarang yang hanya 0,9%”
Saya: “Eh, iya. Ngomong-ngomong tentang bunga, jadi tabungan saya ini bunganya 0,9% ya?”
CS: “Iya Pak, kecil banget kan ya”
Saya: “Bisa gak Mbak, kalo tabungan saya itu dijadiin 0% saja, jadi tanpa bunga”
CS: “Loh? Bapak ini gimana? orang malah nyari bunga loh nabung di bank itu, kok Bapak malah gak mau bunga?”
Saya:Gapapa Mbak, pengen jadi tanpa bunga saja. Eh jadi gimana? bisa tidak kalau rekening saya jadi tanpa bunga?”
CS: “Gak bisa Pak, itu sudah by system, kami gak bisa membuat jadi 0″.
Saya: “Oo.. gitu, ada cara lain gak ya Mbak biar tabungan saya gak berbunga?”
CS: “Untuk tabungan di bawah 1jt maka tidak mendapat bunga Pak. Tapi saya masih heran, kok Pak Ardy gak mau tabungannya berbunga ya? itukan semacam bonus atas simpanan Bapak”
Saya (Dalam hati berkata: Mbak yang minta jelasin ya, dengan senang hati saya jelaskan :-) ): “Yang Mbak sebut BONUS tadi, dalam islam disebut RIBA, riba itu hukumnya haram. Bahkan dosanya yang paling kecil adalah seperti berzinah dengan ibu kandung. Bukan bermaksud sok islam Mbak, tapi bagi saya saat saya mengucap La ilaha illallah, artinya saya menyetujui semua hukum yang sudah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, dan saya harus komitmen dengan itu, termasuk untuk tidak memakan riba.”
CS: “Oo.. gitu ya Pak.”
Saya: “Maaf yang Mbak, bukan saya yang sok menceramahi, cuma kan Mbak yang nanya, ya saya berkewajiban menjawab :-)

Kurang lebih seperti itu dialog saya dengan Mbak Customer Service di Bank Biru. Lumayan dapet kesempatan untuk berdakwah :).

Kalau dihitung-hitung, 0,9% itu sungguh kecil, andaikata tabungan kita 10jt, artinya hanya 90rb yang kita dapatkan, tapi yang kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak? wuih, cuma demi 90rb? Dalam sebuah hadits diriwayatkan: “Dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu tujuh puluh tiga pintu, dan pintu yang paling ringan dari riba adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR. Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).

Paling kecil loh itu, bagaimana jika pemakan riba yang kelas kakap?

Dosa riba bukan hanya diterima nasabah bank.

Sebagai nasabah, artinya kita memakan riba. Bagaimana dengan bank yang memberikan riba? pegawainya? dan elemen-elemen pendukung?

Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, yang memberikannya, pencatatnya dan saksi-saksinya.” Kemudian beliau berkata, “ Mereka semua sama!”. (HR. Muslim)

Artinya, baik pegawai bank sebagai pencatat transaksi, juga yang hanya menyaksikan akad riba, maka sama dosanya dengan pemberi (bank) dan penerima (nasabah).

Solusi Nasabah?

Ada beberapa cara menghindarkan riba yang saya tau, secara tidak langsung, percakapan saya dan Customer Service Bank Biru menunjukkan salah satu solusi.

Untuk solusi dari saya, adalah sebagai berikut:

  1. Berakad dengan bank bahwa kita tidak mau menerima riba, salah satunya dengan meminta kepada Customer Service untuk membuat tabungan kita tanpa riba atau membuat perjanjian dengan bank tsb untuk tidak memberikan bunga. Jika hal ini ditolak/tidak diterima, maka…
  2. Minta Customer Service untuk menjelaskan berapa jumlah tabungan yang tidak terkena riba, usahakan tabungan kita di bawah angka tsb. Dalam kondisi saya, Bank Biru tidak memberikan bunga jika tabungan di bawah 1 juta rupiah. Lalu…
  3. Uang yang selain di ambang batas terkena riba tadi (seandainya tabungan Anda 10 juta, artinya ambil 9,1 juta sisakan 900 ribu). 9,1 juta disimpan di tempat lain, bisa disimpan di rumah, atau jika takut hilang bisa disimpan di Bank Syariah yang akadnya hanya titip (tanpa bagi hasil), atau lebih baik jika untuk mencegah inflasi, bisa dijadikan emas batangan.

Sebenarnya akan lebih baik jika menabung di Bank Syariah murni saja, tetapi jika Anda seperti saya yang terlalu banyak transaksi yang dilakukan di bank konvensional, karena beberapa orang (klien) saya lebih suka jika mentransfer uang ke Bank Biru, karena ada internet banking, sms banking, tanpa dikenakan biaya transfer antar bank, dsb. Maka 3 langkah di atas insya Allah menghindarkan Anda dari riba. Allahu A’lam.

Eh, tunggu dulu? Bagaimana solusi untuk pegawai bank? Nanti ya, diposting selanjutnya dibahas 😉

Incoming search terms:

  • contoh percakapan customer service dengan nasabah
  • Contoh percakapan dialog tantang QIRAD
  • percakapan tentang riba

Ardy Hidayat

Read more posts by this author.