Saat Wanita Lain Memikat Hati

Manusia dikarunia naluri dan kebutuhan jasmani yang sama. Di dalam diri manusia, Allah anugerahkan naluri beragama [gharizah at-tadayyun], naluri seksual [gharizah an-nau’] dan naluri bertahan [gharizah al-baqa’]. Naluri ini akan terangsang, ketika ada rangsangan dari luar, berupa fakta yang bisa mempengaruhinya, dan dari dalam melalui pikiran dan imaginasinya. Dua fakta inilah yang mempengaruhi naluri manusia, apapun nalurinya, dan siapapun manusianya. Sahabat Nabikah, atau kita, semua sama.

Ketika seorang pria melihat wanita lain, naluri seksualnya akan terangsang. Muncullah ketertarikan kepadanya. Meski, pria itu sudah beristeri. Terlebih, jika intensitas interaksinya sangat kuat dan intens. Bak pepatah, “Rumput tetangga seolah tampak lebih hijau, ketimbang rumput sendiri”. Pepatah ini menggambarkan, jika seorang pria yang telah menikah tertarik kepada wanita lain, yang kelihatannya lebih cantik, menarik dan lebih segalanya daripada istrinya.

Lalu bagaimana pria Muslim tersebut harus menghadapi godaan ini, dan mengatasinya? Karena, godaan seperti ini bisa muncul di mana saja, kapan saja, baik di jalan, tempat kerja, masjid atau di manapun dia berada. Apalagi hidup di zaman edan seperti sekarang.

Namun, faktor ketakwaan yang ada di dalam hatinyalah yang mengunci hatinya, untuk tidak menoleh kepada wanita lain. Ketakwaan yang kemudian membentuk kesetiaannya, yang kemudian menentukan keputusannya. Rasulullah telah mencontohkannya dengan sangat baik. Begini kisahnya.

Kala itu, Rasulullah masuk ke Masjid Nabawi dalam keadaan rambut masih basah setelah mandi jinabat. Rasul pun bersabda kepada para Sahabat:

“Jika engkau melihat seorang wanita, lalu dia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki oleh wanita itu.” [HR. at-Tirmidzi]

Begitulah, tuntunan Rasulullah agar para suami tidak tertarik kepada wanita lain, apalagi sampai berzina. Ketika dia mulai tertarik kepada wanita lain, maka pikirannya harus segera dialihkan kepada isterinya di rumah. Karena, di rumahnya Allah telah berikan wanita yang halal dan telah mengikatkan janji kepadanya. Wanita itu memiliki apapun yang dimiliki wanita tadi.

Maka, isteri di rumah merupakan obat, yang bisa mengobati ketertarikan suaminya kepada wanita lain, bahkan obat yang bisa menyembuhkan kegalauannya. Saat yang sama, isteri pun harus mampu mengobarkan cinta suaminya, sehingga suaminya bergairah memenuhi haknya.

Begitulah yang dilakukan oleh Zainab binti ‘Umar bin Salamah kepada ‘Abdullah bin Rabi’ah, suaminya. Zainab dan ‘Abdullah sejatinya masih mempunyai ikatan keluarga, mereka adalah saudara sepupu. ‘Abdullah adalah pria sholeh, yang terkenal dengan ketakwaannya, dan selalu menjadi ‘iffah [kesucian hati]-nya.

Sebelum menikah dengan Zainab, ‘Abdullah telah menikahi beberapa wanita. Tetapi, tak satupun wanita itu bisa membuatnya bergairah. Sampai Zainab penasaran, dalam hatinya bertanya, “Mengapa para wanita itu lari dari anak pamannya?” Ada yang mengatakan, “Karena wanita-wanita yang pernah menjadi istrinya tak mampu membuatnya mampu melaksanakan tugas sebagai suami.”

Penasaran bercampur kasihan, Zainab seolah ingin menunaikan tugas yang tak sanggup dilakukan oleh para wanita, bekas isteri ‘Abdullah itu. Dia mengatakan, “Tak ada yang menghalangiku untuk membuatnya bergairah,” kata Zainab. “Demi Allah, aku adalah wanita berperawakan besar dan menggairahkan.” Akhirnya, Zainab pun menikahinya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menuturkan, “Dia selalu sabar meladeninya dan akhirnya mereka dikaruniai enam anak.”

Gairah suami bisa surut, bahkan memudar, karena istri di rumah yang bersikap dingin dan menahan tangannya dari cengkeraman yang mesra kepada suami. Sementara, wanita lain di luar sana menebarkan pesona, seolah ingin menerkam mangsa. Sikap dingin isteri itu boleh jadi, karena ditutupi rasa malu yang begitu kuat, padahal dia sebenarnya ingin mendapatkan kehangatan cinta dari suaminya.

Ibarat minuman hangat yang didekatkan pada segelas es, gairah dan kemesraan suami pada pasangannya pun bisa surut, bahkan hilang, oleh dinginnya sikap istri dalam menanggapi belaian sayang dan cinta suaminya.

Sebaliknya, seorang suami yang sulit terbangkitkan hasratnya dapat menjadi laki-laki yang penuh kehangatan, karena istri yang tahu bagaimana menumbuhkan ketertarikan suami kepada dirinya saat berhubungan. Rasa malu tidak menghalanginya untuk memberikan kebahagiaan pada suaminya, dan merasakan indahnya bermesraan dengan suaminya. Karena indahnya berhubungan intim merupakan kenikmatan yang disukai dan diridhai oleh Allah.

Istri-isteri di rumah yang membuatnya suaminya bergairah akan mendapatkan ridha dan berkah-Nya. Tepat sekali nasihat Muhammad al-Baqir kepada kaum wanita, “Wanita yang terbaik di antara kamu adalah yang membuang pakaian malu ketika ia membuka baju untuk suaminya, dan memasang perisai malu saat ia memakai pakaiannya lagi.”

Begitulah, romantisme suami-isteri di rumah merupakan ikatan kuat yang membuat para suami terikat kuat hatinya, sehingga tak kan pernah lagi melihat wanita lain di luar sana. Semoga kita semua dianugerahi keluarga yang sakinah, penuh kasih [mawaddah] dan cinta [rahmah].


disadur dari Facebook resmi:
KH Hafidz Abdurrahman, Khadim Majelis Syaraful Haramain

Ardy Hidayat

CEO Limosin Creative, Web Developer, Wordpress Customizer, Ketua Blogger WongKito

Palembang, Indonesia http://ardy.hiday.at